a) Fiqh menurut Etimologi
Fiqh menurut bahasa berarti; faham, sebagaimana firman Allah SWT:
"Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku. Supaya mereka memahami perkataanku." ( Thaha:27-28)
Pengertian fiqh seperti diatas, juga tertera dalam ayat lain, seperti; Surah Hud: 91, Surah At Taubah: 122, Surah An Nisa: 78
Fiqh dalam terminologi Islam
Dalam terminologi Islam, fiqh mengalami proses penyempitan makna; apa yang dipahami oleh generasi awal umat ini berbeda dengan apa yang populer di genersi kemudian, karenanya kita perlu kemukakan pengertian fiqh menurut versi masing-masing generasi;
Fiqh menurut bahasa berarti; faham, sebagaimana firman Allah SWT:
"Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku. Supaya mereka memahami perkataanku." ( Thaha:27-28)
Pengertian fiqh seperti diatas, juga tertera dalam ayat lain, seperti; Surah Hud: 91, Surah At Taubah: 122, Surah An Nisa: 78
Fiqh dalam terminologi Islam
Dalam terminologi Islam, fiqh mengalami proses penyempitan makna; apa yang dipahami oleh generasi awal umat ini berbeda dengan apa yang populer di genersi kemudian, karenanya kita perlu kemukakan pengertian fiqh menurut versi masing-masing generasi;
b) Ruang lingkup bahasan fiqh
Sesuai dengan definisi fiqh diatas maka seluruh perbuatan dan perilaku manusia merupakan medan bahasan ilmu fiqh. Ruang lingkup yang demikian luas ini biasanya dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu:
Thaharah, yaitu hal ihwal bersuci, baik dari najis maupun dari hadats.
Ibadah, yang berisi tentang tata cara beribadah seperti sholat, puasa, zakat dan haji.
Muamalat, yang membahas tentang bentuk-bentuk transaksi dan kegiatan-kegiatan ekonomi.
Munakahat, yaitu tenatang pernikahan, perceraian dan soal-soal hidup berumah tangga.
Jinayat, yang mengulas tentang perilaku-perilaku menyimpang (mencuri, merampok, zina dan lain-lain) dan sangsinya
Faraidh, yang membahas tentang harta warisan dan tata cara pembagiannya kepada yang berhak.
Siyasat, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan aktifitas politik, peradilan, kepemimpinan dan lain-lain.
Sesuai dengan definisi fiqh diatas maka seluruh perbuatan dan perilaku manusia merupakan medan bahasan ilmu fiqh. Ruang lingkup yang demikian luas ini biasanya dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu:
Thaharah, yaitu hal ihwal bersuci, baik dari najis maupun dari hadats.
Ibadah, yang berisi tentang tata cara beribadah seperti sholat, puasa, zakat dan haji.
Muamalat, yang membahas tentang bentuk-bentuk transaksi dan kegiatan-kegiatan ekonomi.
Munakahat, yaitu tenatang pernikahan, perceraian dan soal-soal hidup berumah tangga.
Jinayat, yang mengulas tentang perilaku-perilaku menyimpang (mencuri, merampok, zina dan lain-lain) dan sangsinya
Faraidh, yang membahas tentang harta warisan dan tata cara pembagiannya kepada yang berhak.
Siyasat, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan aktifitas politik, peradilan, kepemimpinan dan lain-lain.
- Ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut syara’ (terminologi), ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain adalah:
[1]. Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para Rasul-Nya.
[2]. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.
[3]. Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. Yang ketiga ini adalah definisi yang paling lengkap.
a) Menurut bahasa thaharah berarti annzhaafah wannazaahah minal ahdaats ’bersih dan suci dari berbagai hadas’. Adapun menurut istilah fiqih adalah raful hadas au izaalatun najas ’menghilangkan hadas atau membersihkan najis
Perintah Bersuci di Al Qur’an dan Hadits
Thaharah hukumnya wajib berdasarkan Alquran dan sunah. Allah Taala berfirman (yang artinya), "Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan salat, maka basuhlah muka kalian dan tangan kalian sampai dengan siku, dan sapulah kepala kalian, dan (basuh) kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki." (Al-Maidah: 6).
Allah juga berfirman, "Dan, pakaianmu bersihkanlah." (Al-Mudatstsir: 4).
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri." (Al-Baqarah: 222).
Rasulullah bersabda (yang artinya), "Kunci salat adalah bersuci." Dan sabdanya, "Salat tanpa wudu tidak diterima." (HR Muslim). Rasulullah saw. Bersabda, "Kesucian adalah setengah iman." (/I)(HR Muslim).
Thaharah hukumnya wajib berdasarkan Alquran dan sunah. Allah Taala berfirman (yang artinya), "Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan salat, maka basuhlah muka kalian dan tangan kalian sampai dengan siku, dan sapulah kepala kalian, dan (basuh) kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki." (Al-Maidah: 6).
Allah juga berfirman, "Dan, pakaianmu bersihkanlah." (Al-Mudatstsir: 4).
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri." (Al-Baqarah: 222).
Rasulullah bersabda (yang artinya), "Kunci salat adalah bersuci." Dan sabdanya, "Salat tanpa wudu tidak diterima." (HR Muslim). Rasulullah saw. Bersabda, "Kesucian adalah setengah iman." (/I)(HR Muslim).
b) Tayamum adalah gerakan menyapukan tanah yang berdebu dengan tapak tangan ke seluruh muka dan kepada kedua tangan. Ia adalah sebagai pengganti wudhu ataupun mandi junub, hanya semata-mata untuk mengerjakan solat sahaja dengan sebab waktu solat telah tiba sedangkan air tidak dijumpai. Kalau air sudah dijumpai, maka kita tidak boleh lagi bertayamum. Orang yang bertayamum untuk mengganti mandi junub, hendaklah mandi semula apabila sudah mendapat air, sebagaimana mestinya sebelum bersolat.
Bertayamum hendaklah dengan tanak suci yang berdebu. Boleh juga bertayamum dengan pasir halus atau batu yang telah dihancurkan menjadi tepung (seperti tepung atau debu yang kita yakin tidak kotor)
Boleh juga bertayamum dengan menekankan kedua telapak tangan kita ke bumi lalu dihembus kerana bumi itu dijadikan Tuhan suci bagi kita.
Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, mengatakan:
Dari Huzaifah bin Yaman, bahawa sanya Rasulullah s.a.w. pernah berkata: "Dijadikan Tuhan bagiku bumi sebagai barang yang bersih dan suci dan untuk tempat bersujud".
Ada lagi hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muuslim sebagai berikut:
Dari 'Imar bin Yasir r.a. berkata ia: Pernah aku junub, maka aku gosokkan tanganku ke tanah lalu aku ceritakan hal itu kepada Nabi s.a.w. Rasulullah s.a.w. berkata: "Sesungguhnya sudah cukuplah begini untukmu", lalu Rasulullah memukul kedua telapak tangannya ke bumi kemudian dihembusnya kedua telapak tangannya itu lalu disapunya mukanya dengan kedua telapak tangannya dan begitu pula disapunya dua daun tangannya.
1. Sebab-sebab bertayamum
2. Perkara-perkara yang membatalkan tayamum
3. Cara-cara bertayamum
Sebab-Sebab Bertayamum
Tayamum itu dikerjakan oleh kerana adanya berapa halangan ke atas diri kita yang menyebabkan kita tidak boleh mengambil wudhu seperti:
Kita dalam perjalanan atau uzur kerana sakit.Kalau anggota badan terkena air, ia akan bertambah sakit ataupun akan lambat sembuh menurut nasihat doktor. Kerana tidak ada air.Setelah berusaha mencarinya tetapi tidak dapat diperolehi. Sudah masuk waktu solat.Dan air masih juga belum didapati.
Perkara-Perkara yang Membatalkan Tayamum
Tayamum itu akan batal apabila sudah perolehi air semula. Selain dari itu, perkara-perkara yang membatalkan tayamum adalah sama seperti perkara-perkara yang membatalkan wudhu iaitu:
Buang air kecil/besar, buang angin atau keluar sesuatu zat dari salah satu lubang kemaluan
Tidur nyenyak sehingga tidak sedar apa-apa yang berlaku ke atas diri kita
Hilang akal kerana mabuk, gila, pitam dan sebagainya
Bersetubuh ataupun mengeluarkan mani
Menyentuh, sengaja atau tidak sengaja, kemaluan atau dubur dengan telapak tangan sebelah dalam
Menyentuh, sengaja atau tidak sengaja, sesiapa yang bukan muhrim
Peringatan
Bagi orang yang sedang junub, kalau akan mengerjakan solat sedangkan air belum diketemui ataupun dilarang menyentuhnya, maka hendaklah ia bertayamum DUA KALI. Tayamum yang pertama adalah untuk pengganti junub dan yang kedua untuk pengganti wudhu ! Selagi tayamum tidak batal maka dengan tayamum yang satu kali itu kita boleh mengerjakan beberapa kali solat wajib.
Cara-Cara Bertayamum
Sebelum membuat sesuatu, disunatkan membaca Bismillahirrahmanirrahim; yang bermaksud Dengan nama Allah yang Pengasih Penyayang.
Langkah 1: Niat di dalam hati " Sahaja aku bertayamum pengganti wudhu' untuk solat fardhu kerana Allah Ta'ala", sambil menekankan kedua telapak tangan ke atas tanah atau debu yang bersih.
Langkah 2: Sapukan kedua telapak tangan yang sudah ditekan ke atas tanah atau debu tadi keseluruh muka. Sebelum menyapukannya ke muka, hendaklah dihembus kedua telapak tangan itu terlebih dahulu supaya debu atau tanahnya tidak terlalu banyak.
Langkah 3: Tekankan kedua telapak tangan sekali lagi ke atas tanah atau debu.
Langkah 4: Sapukan telapak tangan kiri kepada tangan kanan. Paling sedikit mesti sampai sehingga pergelangan tangan.
Langkah 5: Sapukan telapak kanan kepada tangan kiri. Paling sedikit mesti sampai sehingga pergelangan tangan.
Bertayamum hendaklah dengan tanak suci yang berdebu. Boleh juga bertayamum dengan pasir halus atau batu yang telah dihancurkan menjadi tepung (seperti tepung atau debu yang kita yakin tidak kotor)
Boleh juga bertayamum dengan menekankan kedua telapak tangan kita ke bumi lalu dihembus kerana bumi itu dijadikan Tuhan suci bagi kita.
Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, mengatakan:
Dari Huzaifah bin Yaman, bahawa sanya Rasulullah s.a.w. pernah berkata: "Dijadikan Tuhan bagiku bumi sebagai barang yang bersih dan suci dan untuk tempat bersujud".
Ada lagi hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muuslim sebagai berikut:
Dari 'Imar bin Yasir r.a. berkata ia: Pernah aku junub, maka aku gosokkan tanganku ke tanah lalu aku ceritakan hal itu kepada Nabi s.a.w. Rasulullah s.a.w. berkata: "Sesungguhnya sudah cukuplah begini untukmu", lalu Rasulullah memukul kedua telapak tangannya ke bumi kemudian dihembusnya kedua telapak tangannya itu lalu disapunya mukanya dengan kedua telapak tangannya dan begitu pula disapunya dua daun tangannya.
1. Sebab-sebab bertayamum
2. Perkara-perkara yang membatalkan tayamum
3. Cara-cara bertayamum
Sebab-Sebab Bertayamum
Tayamum itu dikerjakan oleh kerana adanya berapa halangan ke atas diri kita yang menyebabkan kita tidak boleh mengambil wudhu seperti:
Kita dalam perjalanan atau uzur kerana sakit.Kalau anggota badan terkena air, ia akan bertambah sakit ataupun akan lambat sembuh menurut nasihat doktor. Kerana tidak ada air.Setelah berusaha mencarinya tetapi tidak dapat diperolehi. Sudah masuk waktu solat.Dan air masih juga belum didapati.
Perkara-Perkara yang Membatalkan Tayamum
Tayamum itu akan batal apabila sudah perolehi air semula. Selain dari itu, perkara-perkara yang membatalkan tayamum adalah sama seperti perkara-perkara yang membatalkan wudhu iaitu:
Buang air kecil/besar, buang angin atau keluar sesuatu zat dari salah satu lubang kemaluan
Tidur nyenyak sehingga tidak sedar apa-apa yang berlaku ke atas diri kita
Hilang akal kerana mabuk, gila, pitam dan sebagainya
Bersetubuh ataupun mengeluarkan mani
Menyentuh, sengaja atau tidak sengaja, kemaluan atau dubur dengan telapak tangan sebelah dalam
Menyentuh, sengaja atau tidak sengaja, sesiapa yang bukan muhrim
Peringatan
Bagi orang yang sedang junub, kalau akan mengerjakan solat sedangkan air belum diketemui ataupun dilarang menyentuhnya, maka hendaklah ia bertayamum DUA KALI. Tayamum yang pertama adalah untuk pengganti junub dan yang kedua untuk pengganti wudhu ! Selagi tayamum tidak batal maka dengan tayamum yang satu kali itu kita boleh mengerjakan beberapa kali solat wajib.
Cara-Cara Bertayamum
Sebelum membuat sesuatu, disunatkan membaca Bismillahirrahmanirrahim; yang bermaksud Dengan nama Allah yang Pengasih Penyayang.
Langkah 1: Niat di dalam hati " Sahaja aku bertayamum pengganti wudhu' untuk solat fardhu kerana Allah Ta'ala", sambil menekankan kedua telapak tangan ke atas tanah atau debu yang bersih.
Langkah 2: Sapukan kedua telapak tangan yang sudah ditekan ke atas tanah atau debu tadi keseluruh muka. Sebelum menyapukannya ke muka, hendaklah dihembus kedua telapak tangan itu terlebih dahulu supaya debu atau tanahnya tidak terlalu banyak.
Langkah 3: Tekankan kedua telapak tangan sekali lagi ke atas tanah atau debu.
Langkah 4: Sapukan telapak tangan kiri kepada tangan kanan. Paling sedikit mesti sampai sehingga pergelangan tangan.
Langkah 5: Sapukan telapak kanan kepada tangan kiri. Paling sedikit mesti sampai sehingga pergelangan tangan.
4 Zakat merupakan salah satu[rukun Islam], dan menjadi salah satu unsur pokok bagi tegaknya [syariat Islam]. Oleh sebab itu hukum zakat adalah wajib (fardhu) atas setiap muslim yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Zakat termasuk dalam kategori ibadah, seperti:shalat,haji,dan puasa yang telah diatur secara rinci dan paten berdasarkan Al-Qur'an dan As Sunnah,sekaligus merupakan amal sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan yang dapat berkembang sesuai dengan perkembangan ummat manusia.
Macam-Macam Zakat
Zakat terbagi atas dua tipe yakni:
· zakat fitrah zakat yang wajib dikeluarkan Muslim menjelang Idul Fitri pada bulan Ramadhan. Besar Zakat ini setara dengan 2,5 kilogram makanan pokok yang ada di daerah bersangkutan.
· zakat maal(Zakat Harta), mencakup hasil perniagaan, pertanian, pertambangan, hasil laut, hasil ternak, harta temuan, emas dan perak serta hasil kerja (profesi). Masing-masing tipe memiliki perhitungannya sendiri-sendiri.
Yang berhak menerima
· Fakir - Mereka yang hampir tidak memiliki apa-apa sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok hidup.
· Miskin - Mereka yang memiliki harta namun tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk hidup.
· Amil - Mereka yang mengumpulkan dan membagikan zakat.
· Muallaf - Mereka yang baru masuk Islam dan membutuhkan bantuan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan barunya
· Hamba Sahaya yang ingin memerdekakan dirinya
· Gharimin - Mereka yang berhutang untuk kebutuhan yang halal dan tidak sanggup untuk memenuhinya
· Fisabilillah - Mereka yang berjuang di jalan Allah (misal: dakwah, perang dsb)
· Ibnus Sabil - Mereka yang kehabisan biaya di perjalanan.
Yang tidak berhak menerima zakat
- Orang kaya. Rasulullah bersabda, "Tidak halal mengambil sedekah (zakat) bagi orang yang kaya dan orang yang mempunyai kekuatan tenaga." (HR Bukhari).
- Hamba sahaya, karena masih mendapat nafkah atau tanggungan dari tuannya.
- Keturunan Rasulullah. Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya tidak halal bagi kami (ahlul bait) mengambil sedekah (zakat)." (HR Muslim).
- Orang yang dalam tanggungan yang berzakat, misalnya anak dan istri.
- Orang kafir
5. Menurut bahasa thaharah berarti annzhaafah wannazaahah minal ahdaats ’bersih dan suci dari berbagai hadas’. Adapun menurut istilah fiqih adalah raful hadas au izaalatun najas ’menghilangkan hadas atau membersihkan najis
Sebab-Sebab Bertayamum
Tayamum itu dikerjakan oleh kerana adanya berapa halangan ke atas diri kita yang menyebabkan kita tidak boleh mengambil wudhu seperti:
Kita dalam perjalanan atau uzur kerana sakit.Kalau anggota badan terkena air, ia akan bertambah sakit ataupun akan lambat sembuh menurut nasihat doktor. Kerana tidak ada air.Setelah berusaha mencarinya tetapi tidak dapat diperolehi. Sudah masuk waktu solat.Dan air masih juga belum didapati
Tayamum itu dikerjakan oleh kerana adanya berapa halangan ke atas diri kita yang menyebabkan kita tidak boleh mengambil wudhu seperti:
Kita dalam perjalanan atau uzur kerana sakit.Kalau anggota badan terkena air, ia akan bertambah sakit ataupun akan lambat sembuh menurut nasihat doktor. Kerana tidak ada air.Setelah berusaha mencarinya tetapi tidak dapat diperolehi. Sudah masuk waktu solat.Dan air masih juga belum didapati
Thaharah hukumnya wajib berdasarkan Alquran dan sunah. Allah Taala berfirman (yang artinya), "Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan salat, maka basuhlah muka kalian dan tangan kalian sampai dengan siku, dan sapulah kepala kalian, dan (basuh) kaki kalian sampai dengan kedua mata kaki." (Al-Maidah: 6).
Allah juga berfirman, "Dan, pakaianmu bersihkanlah." (Al-Mudatstsir: 4).
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri." (Al-Baqarah: 222).
Rasulullah bersabda (yang artinya), "Kunci salat adalah bersuci." Dan sabdanya, "Salat tanpa wudu tidak diterima." (HR Muslim). Rasulullah saw. Bersabda, "Kesucian adalah setengah iman." (/I)(HR Muslim).
Allah juga berfirman, "Dan, pakaianmu bersihkanlah." (Al-Mudatstsir: 4).
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri." (Al-Baqarah: 222).
Rasulullah bersabda (yang artinya), "Kunci salat adalah bersuci." Dan sabdanya, "Salat tanpa wudu tidak diterima." (HR Muslim). Rasulullah saw. Bersabda, "Kesucian adalah setengah iman." (/I)(HR Muslim).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar